IOC soroti penyatuan Korea sebagai kisah sukses 2018

Jakarta (ANTARA News) – Penyatuan dua negara Korea dan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 menjadi salah satu kisah sukses terbesar yang mendapatkan sorotan dari Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach dalam pesan tahun baru 2019.

Thomas Bach, seperti tercantum dalam situs resmi IOC yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis, menyebut Olimpiade Musim Dingin PyeongChang menjadi kisah sukses dalam berbagai aspek.

“Dari pencapaian bidang olahraga dan pengalaman atlet hingga pengorganisasian yang luar biasa dan kesuksesan keuangan, kejuaraan itu telah membuka horizon dalam berbagai cara lain yang dapat dibayangkan seseorang dalam beberapa bulan lalu,” kata Bach.

Bach menekankan ungkapan terbaik dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 itu adalah ketika atlet Korea Utara dan Korea Selatan berjalan bersama dalam defile dalam upacara pembukaan.

“Mereka masuk stadium sebagai satu tim, bersatu di bawah satu bendera, bendera unifikasi Korea,” katanya.

Bach mengatakan momentum penyatuan Korea tidak terjadi begitu saja dan merupakan satu proses panjang panjang dari negosiasi-negosiasi dan penyatuan tingkat tinggi pejabat pemerintahan oleh Komite Olimpiade Internasional yang dimulai pada 2014.

“Dengan simbol-simbol dan isyarat yang kuat dalam PyeongChang, kami telah melihat bagaimana Pertandingan Olimpiade dapat membuka jalan untuk dialog. Bagaimana nilai-nilai Olimpiade dapat membuka jalan menuju masa depan yang damai,” ujarnya.

Kesuksesan PyeongChang, menurut Bach, tidak akan pernah menjadi sebuah kesimpulan yang tidak dapat dielakkan.

“Hanya dalam beberapa bulan sebelum pertandingan, pemikiran tentang kedua tim Korea berjalan secara damai bersama dalam Pertandingan Olimpiade tampak tidak mungkin karena kita menghadapi peluncuran misil dan uji coba nuklir di semenanjung Korea,” ujarnya.

Namun, IOC selalu membuka pintu partisipasi bagi atlet-atlet Korea Utara di PyeongChang meskipun dalam waktu paling sulit dari ketegangan politik.

Selain kisah penyatuan Korea, Bach juga menekankan penyelenggaraan Olimpiade Remaja di Buenos Aires, Argentina pada 2018 sebagai ajang penyetaraan gender dalam bidang olahraga.

“Cabang-cabang dan disiplin olahraga baru membawa anak-anak muda yang lain untuk mengikuti program pertandingan olahraga,” katanya.

Pada 2019, IOC akan punya agenda penting yaitu pemilihan tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan syarat penggunaan 80 persen arena pertandingan dan fasilitas yang sudah ada atau digunakan.

“Kami ingin memperjelas, pada 2026, kami ingin kembali ke negara-negara tradisional musim dingin. Saya yakin kami akan punya tuan rumah yang baik untuk Olimpiade Musim Dingin 2026,” kata Bach.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019