Fadli Zon Kritik IMF-World Bank, PDIP Bandingkan dengan Gaya Cerdas Jokowi

JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fadli Zon kembali mengkritik pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank yang berlangsung di Bali.

Menurut Fadli, Presiden RI pertama Soekarno akan menangis bila yang bersangkutan masih hidup dan melihat pemerintah menjamu negara lain dengan anggaran cukup fantastis.

BERITA TERKAIT +

Klu Bung Karno masih hidup, sy yakin ia menangis melihat pemerintah menjamu neokolonialis Rp 1 trilyun,” kata Fadli lewat akun Twitter resminya @fadlizon.

Fadli Zon 

Sementara, sambung Fadli, banyak korban bencana di Indonesia tidak terurus. “Sementara byk rakyat korban gempa tak terurus n bantuan minim tak ada uangnya,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menyikapi kritik politikus Gerindra itu, yang menurutnya tak masalah Fadli Zon mengkritik pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali. Namun, ia membandingkan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang juga mengkritik IMF, namun caranya berbeda.

“Bukan hanya Fadli Zon yang kritik IMF. Para ekonom dan bahkan Presiden Jokowi juga mengkritik IMF. Hanya caranya yang berbeda. Jokowi menyampaikannya dengan tenang, santun dan substantif. Digunakan ilustrasi cerdas,” kata Hendrawan saat dihubungi, Senin (15/10/2018).

Anggota Komisi Keuangan DPR ini menerangkan, para ahli dan ekonom di banyak yang sudah menulis agar globalisasi ekonomi berjalan adil dan terbuka. Lembaga keuangan internasional seperti IMF-World Bank pun sudah banyak diminta menekankan aspek distribusi kekayaan dan etika sosial.

“Pada dasarnya kita ingin menyaksikan IMF dan World Bank lebih menyuarakan kepentingan bersama bukan hanya kepentingan negara kaya,” tutur Hendrawan.

Dia menambahkan, kritik Fadli Zon terkait hal tersebut sebenarnya sangat relevan. Namun ia menyarankan Fadli melakukan pertemuan-pertemuan eksekutif seperti di Bali itu agar kritiknya tersalurkan lebih efektif.

“Suara kolektif negara-negara berkembang bisa disuarakan secara lebih jelas disertai usulan solusi kongkret,” imbuh Hendrawan.

(Ari)