Kisah Fauzan Noor sang Juara Dunia Karate yang Nasibnya Tak Semujur Zohri

BANJARMASIN – Lalu Muhammad Zohri menjadi buah bibir di Tanah Air dalam sepekan terakhir. Pasalnya, pemuda asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu berhasil menyabet gelar juara dunia sprint 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. Saat ia berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, atensi luar biasa lantas mengalir deras kepada dirinya.

Sebut saja hadiah berupa rumah baru, renovasi tempat tinggal, bantuan modal usaha, tawaran karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) hingga menjadi prajurit TNI pun menantinya. Bahkan, ia mendapat kehormatan diundang ke Istana menemui orang nomor satu di negeri ini, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi).

BERITA TERKAIT +

Tidak hanya Zohri, ternyata masih ada atlet berprestasi mengagumkan yang berhasil mengharumkan nama negara, namun luput dari perhatian pemerintah. Ya, dia adalah Fauzan Noor, pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) itu rupanya sudah lebih dulu mengibarkan sang saka merah putih di negeri orang karena prestasinya, tepatnya sekitar enam bulan lalu.

Fauzan Noor

Fauzan menahbiskan dirinya menjadi yang terbaik di dunia setelah menyegel gelar juara dunia pada Kejuaraan Dunia Karate Tradisional yang berlangsung di Praha, Republik Ceko, pada Januari 2018 lalu. Meski telah mengukir prestasi luar biasa, nasib Fauzan justru berbanding terbalik dengan Zohri. Kehidupan ekonominya saat ini tidak kunjung membaik. Tak satupun orang memberikan apresiasi apalagi hadiah atas prestasi yang diukirnya.

Pemuda berusia 21 tahun yang pernah gagal seleksi penerimaan anggota Satpol PP di Banjarmasin ini pun harus gigit jari. Dikutip dari laman facebook dengan akun Yuni Rusmini, Fauzan terbang ke Praha berbekal seadanya. Bahkan, ia hanya membawa mie instan dan ikan asin sebagai bekal logistiknya.

“Saat itu ketika berangkat ke Praha bermodalkan makanan mie instant, ikan asin (untuk lauk) dan kacang bungkus. Biaya untuk ngurus visa pun harus utang dan sehabis pertandingan harus cari uang untuk bisa mengembalikan,” tulis Yuni dalam postingannya, Rabu 18 Juli 2018.

Usai menjadi juara dunia, kehidupan Fauzan tetap saja pahit. Muncul pertanyaan, di mana perhatian dari Pemprov Kalsel dan Menpora? Lantas, apa tindakan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyikapi prestasi mengagumkan yang ditorehkan Fauzan?

Fauzan Noor

Bisa jadi, karate memang tak sepopuler olahraga sepakbola, badminton, tinju, tenis ataupun cabang atletik. Namun, tak dipungkiri, menjadi juara dunia karate tradisional (dasar karate) memiliki gengsi tersendiri. Asal tahu saja, perkelahian bebas tanpa kelas dan kriteria berat badan ini dilangsungkan tanpa menggunakan pelindung tubuh!.

“Di final, Fauzan mengalahkan karateka Ceko yang tubuhnya lebih tinggi dan berat badannya pun lebih dari 20 kg dari dirinya. Ia harus menahan rasa sakit menghadapi pukulan dan tendangan lawannya demi Merah Putih. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang di Praha. Itulah prahara Fauzan,” tutup Yuni mengakhiri postingannya.

Sekadar informasi, Fauzan kini tinggal bersama orangtuanya di dekat Stadion Lambung Mangkurat KM 5,5, Banjarmasin, Kalsel.

(put)

Hobijudi.com – Situs judi bola online terbaik terbesar terpercaya indonesia resmi dan se asia dunia internasional